Stymulasi elektris pd stroke

Electrical stimulasi

Pemberian intervensi dengan elektroterapi salah satunya adalah dengan pemberian stimulasi elektris pada jaringan otot atau saraf. Stimulasi elektris pada jaringan otot/saraf tersebut bertujuan untuk menjaga sifat fisiologis otot sebagai jaringan kontraktil.

Pelaksanaan stimulus elektris pada kelompok otot tertentu bertujuan untuk mencapai target kontraksi secara optimal sehingga otot akan mengalami relaksasi setelah target tepenuhi. Pada aplikasi ini banyak digunakan untuk tujuan reposisi pada sendi yang mengalami subluksasi, sehingga dengan kontraksi otot yang dapat mulai memberikan gaya untuk menarik posisi sendi ke arah yang semestinya. Sebagai contoh adalah subluksasi kaput humeri terhadap cavitas glenoidalis  yang sering dijumpai pada insan stroke pasca CVA. Jenis arus yang digunakan adalah yang bersifat progressive dengan kontraksi tetanik, misalnya arus faradic, IDC dan DIADYNAMIS. Namun demikian, penulis menekankan bahwa pemberian stimulasi elektris dengan metode ini tidak memberikan efek pembelajaran motorik atau reedukasi pada sistem gerak normal insan stroke.

Penempatan elektrode lebih diutamakan pada kelompok otot ekstensor seperti pada tibialis anterior dan ekstensor carpi radialis karena otot-otot tersebut lebih dominan bekerja melawan gravitasi dan membentuk stabilisasi untuk gerak fungsional pada tangan dan kaki.

Untuk pemanfaatan elektrikal stimulasi pada insan stroke, penulis merekomendasikan untuk menggunakan functional electrcal stimulation (FES), yaitu jenis stimulasi elektris yang digunakan pada aktivitas fungsional.

FES merupakan stimulasi elektris dengan aktivitas kontraksi otot yang terjadi bersifat fungsional dan melibatkan fungsi Sistem Saraf Pusat sehingga memiliki unsur reedukasi. Sebagai contoh adalah gangguan berjalan akibat dropfoot pada insan stroke, maka FES dapat diberikan pada otot tibialis anterior.

Salah satu kelebihan dari Functional Electrical Stimulation adalah rangsangan elektris diberikan hanya pada fase-fase tertentu, misalnya pada rangkaian satu siklus berjalan maka FES akan aktif memberikan stimulasi pada fase pre mengayun dan fase mengayun, dimana pada fase tersebut memang membutuhkan aktifasi otot tibialis anterior untuk menghindari terjadinya dropfoot saat berjalan.

Pemberian dosis yang tepat sangat dibutuhkan dalam pemanfaatan functional electrical stimulation (FES). Intensitas minimal adalah dosis yang tepat karena semakin rendah intensitas stimulasi elektris yang diberikan akan semakin besar keterlibatan sistem saraf pusat melakukan kontrol gerak.

Surface Electromyography (sEMG) Biofeedback

Elektromiografi (electromyography) adalah sebuah metode untuk pengukuran, menampilkan, dan penganalisaan setiap signal listrik (electrical signals) dengan menggunakan bermacam-macam elektrode. Sebuah signal elektromiografi (EMG) berasal dari signal serabut otot pada jarak tertentu dari elektrode (Luttmann, A., 1996).

Sinyal yang diterima elektrode disaring kemudian diproses menjadi tegangan listrik yang ditampilkan dalam bentuk grafik, suara, atau sinar. Gambaran yang diberikan oleh EMG dalam bentuk grafik, suara atau sinar pada lampu indikator merupakan umpan balik (feedback) terhadap otak dari aktivitas kelistrikan pada saat terjadi kontraksi otot.

Sebagaimana diketahui bahwa kontraksi otot pada manusia juga merupakan suatu reaksi kelistrikan antara lain resting membrane potential, muscle fiber action potential dan motor unit action potential. Penggunaan sEMG akan dapat memberikan informasi tentang aktivitas kelistrikan tersebut.

Dengan adanya umpan balik dari aktivitas kelistrikan pada otot saat berkontraksi akan sangat bermanfaat bagi pasien dan fisioterapis. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengaktifkan secara selektif otot-otot tertentu dengan melibatkan fungsi sistem saraf pusat dan tepi secara natural.

Pemanfaatan surface EMG akan dapat meningkatkan kemampuan insan stroke untuk melakukan kontrol terhadap aktifasi suatu otot/sekelompok otot tertentu. Dengan demikian, proses pembelajaran motorik dapat dicapai karena pasien secara aktif terlibat melakukan gerakan dengan mengikuti indikator yang ditampilkan pada surface EMG.

Selain menjadi indikator untuk melakukan kontrol terhadap aktifasi otot, surface EMG juga menjadi umpan balik untuk melakukan control release terhadap otot. Sehingga pemanfaatan sEMG akan sangat membantu dalam proses menurunkan spastisitas otot akibat gangguan sistem saraf pusat.

Pemanfaatan sEMG juga menjadi rekomendasi penulis  agar fisioterapis hendaknya dapat memanfaatkan secara optimal sarana elektroterapeutik yang indikatif bagi insan stroke.

Evidance Base menunjukkan bahwa pemanfaatan electrical stimulasi jenis apapun tidak bersifat rutin dan hanya pada selectif area.

 

irfan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: