Hipertensi pada stroke

Hipertensi

Batasan WHO untuk tekanan darah tinggi perbatasan (borderline hypertension) adalah tekanan darah arterial sistolik 140 – 160 mmHg dan 90 – 95 mmHg diastolik. Penelitian di AS oleh The Hypertension Study Group ternyata 15-20% orang dewasa di AS menderita tekanan darah tinggi. Lebih dari separuhnya menderita kelainan jantung hipertensif, sebagian besar diantaranya tidak disadari, tidak diobati atau diobati secara tidak baik.

Apabila ditinjau secara sederhana maka tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor penting yaitu :

a. Curah jantung dan faktor yang mempengaruhi tingginya tekanan darah ini

b. Tahanan perifer. Walaupun kita ketahui bahwa banyak sekali faktor yang mempengaruhi tingginya tekanan darah ini

Dari penyelidikan diketahui bahwa pada hipertensi essential akan didahului oleh curah jantung yang meningkat, dimana mula-mula akan terjadi suatu keadaan hiperkinetik, dimana volume darah masih relatif tetap. Kemudian akan diikuti dengan darah yang tahanan perifer yang meningkat dan kecenderungan volume darah yang bertambah. Lalu pada fase berikutnya akan timbul curah jantung yang menurun, tahanan perifer yang terus meninggi serta diikuti oleh proses arteriosklerosis dan volume darah yang cenderung berkurang pula.

Efek transport Na dan Ca serta teori-teori mengenai perubahaan neurohumoral dan pada fase berikutnya akan timbul komplikasi pada organ vital lainnya.

Dalam keadaan sehari-hari terdapat fluktuasi tekanan darah, tetapi aliran darah otak relatif dapat dipertahankan konstan oleh mekanisme autoregulasi otak. Autoteregulasi ini memelihara penyediaan oksigen dan glukose untuk kebutuhan sel-sel otak yang aktif bermetabolisme. Fungsi autoregelasi ini akan baik bila tekanan perfusi perbedaan antara tekanan darah arteri rata-rata dikurangi dengan tekanan darah vena intrabrakhial (yang hampir sama dengan tekanan intrakranial). Oleh karena pada keadaan normal tekanan darah vena otak hanya beberapa mm Hg, maka praktis tekanan darah arterial yang menentukan fungsi autoregulasi ini, autoregulasi ini mempunyai limit batas bawah dan limit batas atas, diluar batasan ini maka fungsinya akan terganggu. Pada orang normal batas berkisar 60 mm Hg, sedangkan batas atasnya berkisar 140 mm Hg, diatas itu akan timbul peningkatan aliran darah otak. Batas atas dan batas bawah ini tidaklah mutlak, karena pada penderita hipertensi terjadi pergeseran kurve autoregulasi ke kanan

Pada keadaan hipertensi kronik, dimana sudah didapati kelaianan arteriosklerosis, hipovolemia serta curah jantung menurun dan tahanan perifer yang meninggi: maka penurunan tekanan darah arterial secara drastis akan menganggu fungsi autoregulasi ini, sehingga akan didapati penurunan aliran darah otak secara tajam. Pada keadaan normal maka aliran darahotak berkisar antara 80-100 ml/100 gram jaringan otak. Bila telah terjadi hipertensi yang lama dan proses arterosklerosis sehingga lumen pembuluh darah otak makin mengecil sehingga terjadi reduksi aliran darah otak (CBF = cerebral blood flow) maka dibawah 40 ml/menit akan mulai timbul gangguan berupa electrical silent. Pada taraf 15 ml maka tidak aktifitas listrik otak, bila hanya 6-8 ml akan timbul pelepasan kalium pasif dari dalam sel aktifitas listrik otak  tidak akan pulih kembali.

Apabila CBF ini terus menurun akibat sumbatan baik karena trombus atau emboli maka akan  timbul suatu proses iskemia sehingga suplay energi yang diperluakan untuk kegiatan sel-sel otak menjadi tidak ada, sehingga akan timbul suatu oadema vasaogenik, jadi akan terbentuk suatu daerah dimana terdapat suatu nekrotik dari sel otak, kemudian di sekitarnya akan terdapat suatu daerah perbatasan yang tidak berfungsi tetapi tidak mengalami infark yang disebut “ penumbra are”. Ini disebabkan karena antara lain oleh terbentuknya area oadema vasagonik tadi. Oleh karena daerah penumbra inilah luas dari pada gangguan defisit neurologik yang lebih luas dari pada gangguan sebenarnya dari daerah yang mengalami infark awal.

Sebenarnya daerah penumbra inilah yang merupakan daerah target yang dapat diperbaiki sehingga apabila area yang setengah mati ini dapat dikoreksi aliran darahnya maka akan terjadi perbaikan kllinis neurologiknya.

Dalam pandangan penulis, bahwa setiap individu memiliki karakteristik sendiri-sendiri baik secara biologis maupun fisiologis mengenai hal yang berkaitan dengan tekanan darah, walaupun memang secara normatif terdapat standar nilai tertentu seperti menurut WHO standar hipertensi yaitu tekanan darah arteri sistole 140 – 160 mmHg sedangkan untuk diastolik 90 – 95 mmHg. Akan tetapi kekhasan karakteristik tersebut sebaiknya dijadikan pertimbangan untuk menentukan apakah seorang individu memiliki tekanan darah hipotensi, normal ataupun hipertensi.

Pada beberapa individu nilai tekanan darah arteri sistole 140 mmHg  ataupun diastole 90 mmHg masih dalam batas normal dengan kondisi umum yang stabil. Sehingga untuk mengetahui standar normal individu, maka penulis menyarankan bahwa sangat perlu untuk setiap orang melakukan pemeriksaan tekanan darah saat kondisi tubuh dalam keadaan bugar (fit), tidak ada keluhan yang dirasakan sehingga nilai tekanan darah hasil pengukuran dalam kondisi tersebut merupakan standar normal individu tersebut.

By. Irfan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: